Kamis, 04 April 2013

KAMPUSKU

Kawan lihat ke belakang
Kisah sebuah bangunan raksasa
Dibangun dari kegigihan
Disusun dari kerja keras

Di pertigaan jalan
terbangun, tersusun kampus harapan
Lalu lalang sang maha pelajar
Persepsi diri diutamakan
Mata kuliah adalah pedoman

Kawan lihat ke depan
Mulai dari kampus ini kita mengukir impian
Dari seorang bapak yang berjuang
Bukti nyata Universitas Pamulang

PEREMPUAN

Adalah kaum hawa
Emansipasi mengangkat perubahan
Sosok inspirasi
Sosok edukasi alami
Bak sosok ibu kartini
Adalah kaum yang mempunyai rahim
Lemah kekuatan namun kuat naluri
Unsur estetik dari setiap lekuk tubuh
Menawan
Indah

Senin, 29 Oktober 2012

Kepadanya, Kepada-Mu

Ingin kuceritakan kepada-Mu
Kisahnya
Seseorang yang disebut mempunyai surga dikakinya
Keharuman kasih sayang dikuatkannya melalui mata pencahariannya
Menjadi penyapu jalan raya dijadikannya ibadah
Ibadah untuk mendapat ridho-Mu
Digarapnya tempat rezeki itu
Menanti sang buah hati yang kembali dari sebuah Universitas

Toga itu didapat buah hatinya
Berbagi cerita kepada kawan sebayanya
Simbolis kesenangan yang mahal harganya
Tak banyak kupinta
Panjangkan umurnya Tuhan

Sedikit Cerita

Bagaikan kasta
Aku ini seorang brahmana
Haruskah aku menjadi sudra untuk dapatkan kesenangan dunia
Dengan berusaha
Agar tetap menjadi alasan kau tertawa

Kutunjukkan betapa kuatnya aku berdiri
Kuatnya menggembalakan hati
Kuatnya mengacuhkan segala bentuk cerita yang membuatku kering
Kuatkah aku?
Apa aku kuat?

DEMONSTRASI


Pekan itu terdengar suara peluru melesat
Terdengar jeritan sang maha pelajar
Terdengar juga yel-yel anak bangsa
“Tolak wakapolri masuk UNPAM”
Demonstrasi tidak dilarang
Demonstrasi memang ciri Negara demokrasi
Apakah harus demikian?
Berdemonstrasilah yang elegan
Selayaknya orang berpendidikan

Sahabat Pengamen


Sahabat Pengamen

Ku petik dawai-dawaiku lagi
Di tiga lampu berwarna ini
Kau bernyanyi
Aku mengiringi
Dengan petikan gitar jari kecilku
Sahabat mari kita berjuang
Untuk sebungkus nasi
Sahabat mari kita berdendang
Untuk menghibur hati
Hujan kita bersama
Panas terik kita berdua
Demi perut kita hari ini


(Ayu Safitria)

Minggu, 01 April 2012

PEREMPUAN INI

PEREMPUAN INI


            Setiap hari aku bersama perempuan ini, kami sudah akrab sekali. Neneng Khoerunnisa namanya, dengan postur tubuh yang gemuk dengan berat badan 53 kg seringkali aku menertawakannya! Tapi karna keakraban kami ia pun tak tersinggung jika ku meledeknya. Salah satu yang aku suka darinya yaitu hidungnya yang mancung kecil dibanding denganku jauh berbeda. Perempuan ini sering disapa 'anis' karna ia tidak suka dengan panggilan nama depannya 'neneng'. Setiap harinya perempuan ini pergi ke kampus diantar oleh ayahnya sampai gerbang kampus Universitas Pamulang dengan jilbab yang tak pernah ia lepas, memakai sepatu putih dengan pita diujung sepatunya dan tas hitam yang selalu ia pakai, uups kawan ada lagi yang selalu aku ingat tentangnya ia beruangsakukan dua puluh lima ribu rupiah seharinya karna sering ia bercerita tentang uang sakunya.
            Kami tidak jarang bercerita tentang 'pacar' kami masing-masing, tetapi itulah cirinya ia selalu mengulang ceritanya setiap kali curhat denganku. Saat perempuan ini bercerita tentang suatu hal yang tidak asing lagi ditelingaku, sering ku katakan "lo udah cerita seribu kali nis.." sambil tertawa kecil ku bilang padanya dan tidak jarang perempuan ini menjawab "yaelaaah gw cuma ngingetin cerita gw yu". Walaupun sifatnya seperti itu tapi itulah ciri khasnya yang selalu saja membuatku tertawa. Perempuan ini tinggal di daerah Ciputat, dari keluarga Betawi dengan logat bahasa yang khas sekali seorang Betawi.
            Namaku Ayu Safitria, perempuan ini memanggilku dengan nama depanku 'ayu'. Aku dengan perempuan ini satu kelas di Fakultas Sastra jurusan Sastra Indonesia. Tahukah kalian bahwa sifat buruk kami berdua adalah sering mengomentari gaya seseorang, bahkan tidak hanya mengomentarinya melainkan mencemoohnya menjadikan bahan tertawaan kami.
Setiap hari pandanganku tertuju pada wajahnya yang beroleskan bedak La Tulip lengkap dengan alas bedaknya. Ku pandangi wajahnya setiap kali ia baru datang ke kelas dan duduk di sampingku ku "nis bedak lu ga rata!" ujar ku sambil meratakan bedak di wajahnya. Tetapi jika ku lihat bedak di wajahnya rapi maka tak ku katakan hal seperti itu. Aku memandangi lagi keseluruhan penampilannya, selalu ku beri komentar jika ada yang tidak cocok dengan penampilannya.
            Setiap kali aku datang lebih awal ku langkahkan kakiku menuju teras di lantai lima tak jauh dari ruang kelasku. Disana aku menunggu perempuan ini datang dari arah gerbang kampus dengan jalannya yang berlenggak-lenggok, jika sudah nampak olehku seorang perempuan dengan jilbabnya berjalan maka kuteriakkan memanggil namanya dan perempuan ini sembalasnya dengan senyumnya, kulambaikan tanganku menandakan aku menunggunya sampai ke kelas.
Aku memutar pandanganku mengikuti arah jalannya perempuan ini, ia sampai di depan auditorium artinya perempuan ini akan naik lift yang berada di dalam auditorium dan akan segera sampai ke kelas. Aku lalu menelusuri lorong diantara kelas-kelas yang lain menuju ruang kelasku dengan langkah yang lambat. Aku memalingkan pandangan ke arah kanan, tampak seorang perempuan dengan ciri-ciri yang ku sebutkan tadi dan ia bergegas lari ke arahku dan mengajak masuk ruang kelas bersama-sama. Kami menyusuri deretan depan bangku kosong yang memang sudah menjadi tempat biasa kami tempati.