Halaman

Senin, 16 Januari 2012

SEJARAH SASTRA INDONESIA ANGKATAN 90

SEJARAH SASTRA INDONESIA
ANGKATAN 90

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhii Salah Satu Nilai Mata Kuliah Sejarah Sastra



Oleh:
Ayu Safitria




FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

      Sastra merupakan tulisan indah, baik yang ditulis oleh pengarang dalam kurun waktu tertentu maupun pengarang pada zaman sekarang. Selain itu juga sastra dapat dipandang sebagai gejala sosial, karena menurut Sangidu (2005:41) karya sastra merupakan tanggapan penciptanya (pengarang) terhadap dunia (realita sosial) yang dihadapinya.[1]
      Dalam Bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk pada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Sastra biasa dibagi sastra tertulis atau sastra lisan. Sastra sebagai pengalaman batin, memperluas emosi pembaca, juga sebagai media pendidikan/ pengajaran dan memberikan inspirasi. Karya sastra sebagai hak cipta manusia selain memberikan hiburan dengan nilai baik, nilai keindahan, susunan adat istiadat, suatu keyakinan dan pandangan hidup orang lain atau masyarakat melalui karya sastra.
                MASALAH angkatan dalam sastra indonesia hingga kini masih tetap di perdebatkan. Perbedaan kriteria atau titik tolak pandangan dalam membuat penggolongan angkatan ini, menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Masalahnya menjadi semakin sulit, karena kriterianya tidak saja berdasarkan perurutan waktu, tetapi juga berdasarkan “nilai-nilai” tertentu. Bakri Siregar mencoba menjelaskan masalah ini.dia juga melihat telah lahir suatu angkatan baru dalam sastra indonesia, yang dalam penampilannya di tandai oleh protes sosial yang ditunjukan kepada penolakan otoritas total dalam semua bidang. Secara instrinsik hal ini diwujudkan dalam penolakan wawasan estetika dari angkatan sebelumnya.[2]
1.2  Rumusan Masalah

Karya sastra memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sosial masyarakat  karena sastra menyajikan gambaran kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial. Kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat dengan orang-orang, antar manusia, antar peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya.

      Fokus Masalah dalam makalah ini, kami memberikan batasan masalah sehingga tidak menyimpang dari apa yang telah menjadi pokok bahasan. Mengacu kepada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi  angkatan

1.      Apa saja ciri-ciri dari angkatan ’90?
2.      siapa saja pengarang serta hasil karyanya pada angkatan ’90?
3.      Siapa pelopor angkatan ’90?
4.      Bagaimana perdebatan yang terjadi pada masa angkatan 90?
                                                                                                                                


BAB II
PEMBAHASAN

            Pembicaraan kali ini mengenai karya sastra angkatan 90. Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1990, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum. Persoalan sejarah memang memegang peranan penting disini. Angkatan 90-an memberikan nafas, terutama surealisme pembongkaran bahasa dan mulai memunculkan masalah gender.

            Memasuki era angkatan 90an penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran. Dengan ditemukannnya percetakan, maka karya sastra jadi bersifat individual : seorang pengarang menulis secara pribadi kemudian sampai juga secara pribadi ketangan pembacanya yang menikmatinya secara pribadi pula.[3]
             Sebetulnya pada angkatan 90 ini belum benar-benar dikatakan sebagai angkatan, namun karena banyak pengarang yang menciptakan suatu karya-karya pada tahun 90an disebutkan bahwa adanya angkatan 90 itu. Generasi 1990-an memang hanya menjadi pencatat peristiwa-peristiwa ketika fenomena “di luar” tengah diterjang badai kesemarakan beragama, sempitnya ruang artikulasi publik dan lahirnya generasi yang gamang, para penyair mengusung peristiwa “luar” itu ke dalam kamar puisinya. Maka sangat tidak mungkin menciptakan sebuah angkatan tanpa adanya perambahan estetika dari sebuah generasi yang selalu mengklaim dirinya menjaga wilayah kata-kata.

             Di samping menampilkan sanjak-sanjak peduli bangsa (istilah yang diusung rubrik budaya Republika) dan karya-karya reformasi yang anti penindasan, gandrung keadilan, berbahasa kebenaran, muncul pula fenomena kesetaraan gender yang mengarah ke woman libs sebagaimana tercermin dalam karya-karya Ayu Utami dari Komunitas Sastra/Teater Utan Kayu, Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari. Pada era yang bersamaan berkibar bendera Forum Lingkar Pena (FLP) dengan tokohnya HTR (Helvy Tiana Rosa) yang berobsesi mengusung Sastra Pencerahan, Menulis Bisa Bikin Kaya.

            Masa Pemapanan dapat mewadahi kehidupan sastra Indonesia tahun 1965-1998 dengan alasan pada masa itu terjadi pemapanan berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, pers, dan pendidikan yang dampaknya tampak pada bidang sastra. Pada masa itu ilmu sastra Indonesia tampak semakin mapan di fakultas sastra, penelitian makin merak dimana-mana, dan penerbitan pun terbilang berlimpah ruah. Memang ada juga pembatasan dan penekanan disana-sini , tetapi secara keseluruhan berkembang mapan.
            Masa Pembebasan dapat mewadahi kehidupan sastra Indonesia selepas reformasi Mei 1998 dengan alasan telah terjadi kebebasan bersastra yang hasilnya masih harus masih diuji oleh sejarah sebagai contoh, roman-roman Pramoedya Ananta Toer dan sejumlah “sastra perlawanan” yang sulit terbit pada masa sebelumnya ternyata sekarang dapat diterbitkan tanpa ketakutan apapun.[4]



Ciri-ciri Angkatan 90
1.      Kecendrungan dominan dari penyairnya yaitu lebih menyodorkan unsur asketik di antara kerumunan tema-tema sosial yang menghinggapi generasi penyair 90-an.
2.      Semakin banyak karya-karya sastra yang diterbitkan tanpa ketakutan apapun.
3.      Ditandai dengan banyaknya roman percintaan.
4.      Mulai memunculkan masalah gender.
5.      Mulai muncul sastrawan wanita yang menonjol.

Pengarang dan Karyanya pada Angkatan 90

No.
Pengarang
Karya
1.
Ayu Utami
·         Saman (1998)
·         Larung (2001)
2.
Jenar Mahesa Ayu
·         Mereka Bilang Saya Monyet
3.
·         Sajak Penari (1990)
·         Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
·         Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
·         Sembahyang Rumputan (1997)
4.
·         Olga Sepatu Roda (1992)
·         Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)

5.
·           Matahari yang Mengalir (1990)
·           Kepompong Sunyi (1993)
·           Nikah Ilalang (1995)
·           Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
6.





            Ada pula kumpulan cerpen pada angkatan 90 ini diantaranya :
1.      Kado Istimewa (pilihan kompas, 1992)
2.      Laki-laki yang Kawin dengan Peri (pilihan kompas, 1995)
3.      Lampor (pilihan kompas, 1994)
4.      Menjelang Pagi (Ratna Indraswari Ibrahim, 1994), dan lain-lain.[5]

Pelopor Angkatan 90

            Ayu Utami adalah salah satu pelopor atau tokoh yang paling populer pada angkatan 90 dengan karyanya Saman diantaranya yang memenangkan sayembara  penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998.
            Sedikit singkat mengenai Ayu Utami, Justina Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968; umur 43 tahun) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
            Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik di masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
            Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larungnya.
Perdebatan yang Terjadi pada ngkatan 90

            Pada tahun 1994, tiga media cetak ditutup Pemerintah: Tempo, Editor, dan Detik. Inilah yang merangsang insiatif untuk membangun Komunitas Utan Kayu. Maka berdirilah Institut Studi Arus Informasi (1995) dan Galeri Lontar (1996) di sebuah kompleks bekas rumah-toko di Jalan Utan Kayu 68-H Jakarta Timur. Menyusul kemudian, Teater Utan Kayu (1997).
            Ketika dulu banyak perdebatan antar individu, kini perdebatan itu tertuang dalam sebuah komunitas-komunitas. Perdebatan itu sekarang milik Komunitas Utan Kayu (KUK) atau lebih khusus kepada Teater Utan Kayu (TUK) dengan Komunitas Ode Kampung (KOK).
     TUK yang dihuni seniman tenar (Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Goenawan Mohamad, Ayu Utami, dan Eko Endarmoko) menjadi pengendali sekaligus aset terpenting dalam keberadaan komunitas ini. Mereka menghasilkan sebuah eksklusivitas tanpa merambah sastra komunitas lain. Banyak karya sastra yang dihasilkan dari komunitas ini, dengan gaya yang begitu bebas. Memakai gaya yang dulu dianggap begitu tabu, kini dipergunakan dengan lantang dan santainya. Salah satu tokohnya, Ayu Utami, yang terlihat dalam novel Saman dan Larung. Dalam novel ini Ayu menggunakan kebebasan dalam bersastra hingga menggunakan bahasa yang vulgar. Goenawan Mohamad  menganggapnya sebagai suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Akibat yang harus ditanggung jika sastra kita ingin menuju pada tahap modern.
     Perdebatan antara KUK dengan TUK-nya dan KOK dengan Boemipoetra-nya hanyalah sebagai perdebatan sastra bocah. Perdebatan yang dikeluarkan bukan bersifat membangun, tidak seperti yang dilakukan oleh tahun-tahun dulu. Ketika itu perdebatan pertama yang muncul antara STA dan Armijn Pane adalah mencakup hal dasar, yaitu dasar budaya bangsa kita: barat atau timur.
            Pada majalah Recak dapat diketahui bahwa letak perdebatan ini karena ketidaksenangan Saut Situmoranng melihat Goenawan Mohamad memanfaatkan mitos baru tentang TUK yang mulai menggeser keberadaan Horizon dan TIM untuk mendominasi dunia sastra Indonesia dalam memenuhi ambisi ekstraliterer mereka. Hal tersebut dimulai dengan skandal menangnya novel Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Setelah itu penghargaan kepada Ayu Utami dari Prince Claus Award karena karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakat. Dalam Saman, Ayu Utami tidak sungkan-sungkan membahas masalah seks. Tapi mungkin zamannya sudah berubah, kini masalah seks sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk diungkapkan. Ironis, bahwa yang mengungkap secara detail dan sedikit jorok dalam novel ini adalah justru seorang wanita yaitu Ayu Utami.


BAB III
SIMPULAN

            Pada akhir bab ini kami pemakalah menarik kesimpulan bahwa salah satu pelopor pada angkatan 90 ini Ayu Utami dengan karyanya “Saman”. Karya-karya populer yang berkembang menunjukan adanya peningkatan kemajuan sastra dari massa pembacanya.[6]
            Sebetulnya angkatan 90 ini masih diragukan apakah ini merupakan angkatan atau bukan, kerena menurut kami angkatan 90 banyak berbau dengan angkatan 2000 atau angkatan reformasi. Seperti pada angkatan-angkatan sebelumnya bahwasanya angkatan 90 ini pun penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran dengan sastrawan wanita yang menonjol.
            Selain itu, Pada masa itu ilmu sastra Indonesia tampak semakin mapan, penelitian makin merak dimana-mana, dan penerbitan pun terbilang berlimpah ruah. Karya-karya yang sulit terbit pada masa sebelumnya ternyata pada angkatan ini  dapat diterbitkan tanpa ketakutan apapun.







DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Melani dkk, Membaca Sastra, (Magelang: Indonesia Tera, 2003).
Kratz, E. Ulrich, Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000). 
K.S, Yudhiyono, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007).
Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988).



[1] Melani Budianta, dkk, Membaca Sastra, (Magelang: Indonesia Tera, 2003), h. 15.
[2] E. Ulrich Kratz, Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000),  hal. 697.
[3] Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988), h. 146.
[4] Yudiono K.S., Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h. 53.
[5] Yudhiyono K.S, Pengantar Sejarah Sastra Indonesia, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007), h.248.
[6]  E. Ulrich Kratz, Sejarah Sastra Indonesia Abad XX, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000),  hal. 687.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar