Sabtu, 11 Januari 2014

SOFT NEWS "PROFIL"


Misbah Priagung Nursalim
MAHASISWA 1000 PRESTASI


Sejak SMA, Misbah Priagung Nursalim aktif dalam berbagai organisasi baik dalam ruang lingkup sekolahnya maupun di masyarakat. Pengalaman organisasinya diiringi dengan hobi menulisnya. Kegiatan positif seperti itu terus dijalaninya hingga ke perguruan tinggi.

OLEH AYU SAFITRIA

Saat saya mengunjunginya, mahasiswa kelahiran Cilacap, 17 Januari 1991 itu sedang duduk di bangku kelasnya terlihat serius membaca sebuah novel karya Okky Madasari. Menggunakan kemeja bergaris warna biru tua dan memakai kacamata seperti biasanya.

Misbah sangat gemar membaca, kegemarannya itu dituangkannya dalam kegiatan positif dengan menulis karya-karya tulis. Sejak September 2010, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia ini mengaku telah banyak mengirimkan karya tulisnya ke berbagai media. Penolakan sering dialaminya namun, tak sedikit karyanya dimuat di media cetak seperti koran KOMPAS dan koran SINDO. “Gak main yang skala lokal soalnya gak ada duitnya” ujarnya.

Melakukan kegiatan yang positif itu baginya selain menguji kemampuan dan menambah pengalaman, kegiatan memanfaatkan kemampuan itu sebagai ajangnya menambah uang saku karena jika karyanya dimuat, beberapa jumlah rupiah pun didapatnya mulai dari 800 ribu didapatnya dari koran SINDO dan 1,5 juta dari harian KOMPAS.

Jenis karya tulis yang sering dikirimnya ke media cetak adalah artikel opini, dirinya sering menulis tentang “Suara Mahasiswa” yang menurutnya sangat asik untuk dibahas melihat dirinya adalah seorang mahasiswa. “Lebih enak koran SINDO yang memang mempunyai halaman khusus mahasiswa,” ujarnya, beberapa hari lalu.

Tidak hanya itu, mahasiswa semester akhir ini aktif di berbagai organisasi yang ruang lingkupnya pada bidang akademik dan di lingkungan masyarakat. Sejak duduk di bangku SMA dirinya pernah menjabat sebagai ketua MPK (Majelis Perwakilan Kelas), IASN (Ikatan Alumni SMKN Nusawungu), FORDIMAS (Forum Diskusi Masyarakat). “Forum Diskusi Masyarakat itu merupakan induk dari organisasi PKS, tapi saya yang mendirikannya bersama teman-teman,” ujarnya.

Segudang pengalamannya itu dikembangkannya hingga kini  di perguruan tinggi menjabat sebagai ketua HIMA Sastra Indonesia pada 2013 lalu. Misbah mengakui, semua hal itu tidak mudah menjalaninya. Ia harus membangun sebuah organisasi dari awal hingga berusaha mengembangkannya, menyadarkan banyak mahasiswa yang acap kali menilai apa yang dilakukannya sebagai hal yang berlebihan.

Selain hobi menulis dan pengalaman organisasinya, banyak perusahaan yang menghargai usaha dan prestasinya itu. Misbah pun banyak  mendapatkan biaya bantuan studi berupa beasiswa diantaranya beasiswa kampus UNPAM senilai 2,1 juta, beasiswa dari YAMAHA senilai 4,2 juta, beasiswa dari JAMSOSTEK senilai 1,5 juta dan beasiswa dari PERTAMINA. Tak hanya karya, pengalaman organisasi dan beasiswa tetapi dirinya juga adalah mahasiswa yang aktif dan rajin di kelasnya, tak jarang dia mendapatkan nilai IPK yang memuaskan. Sudah selayaknya Misbah ini mendapat julukan mahasiswa dengan seribu prestasi.


Senin, 06 Januari 2014

SOFT NEWS "Mendalami Kegiatan Menguntungkan dibalik Warna-warni “Fashion” Mahasiswa UNPAM"


Mendalami Kegiatan Menguntungkan dibalik Warna-warni “Fashion” Mahasiswa UNPAM

            Beragam nuansa berpakaian ala mahasiswa dari kampus yang terletak di Jalan Surya Kencana No. 1 Universitas Pamulang  selalu menciptakan kesan baru bagi pengguna fashion kalangan remaja Tangerang Selatan. Khususnya pada mahasiswa perempuan yang berhijab juga telah menjadi bagian menarik dari mode berpenampilan terkini. Tidak jarang mahasiswa UNPAM yang berhijab, walaupun banyak juga mahasiswi yang tidak menggunakan jilbab karena mahasiswa UNPAM didominasi oleh beragam agama. Berhijab diartikan bukan hanya perempuan yang memakai jilbab, tetapi diartikan sebagai salah satu trend pemakaian jilbab dengan tata cara pemakaian yang dibuat menarik dan sebagus mungkin walaupun pada tahanpan pemakaiannya itu sulit sekali. Selain berfungsi untuk menutupi aurat, berhijab juga didominasi dengan pakaian-pakaian  yang terkesan bagian dari mode dari berhijab.
            Busana hijab ala mahasiswi UNPAM seperti umumnya gaya berbusana dipengaruhi latar budaya, dan kepribadian masing-masing orang yang mengenakan. Keragaman itu menjadi salah satu sebab busana berhijab pun tak berkarakter seragam.
            Rupanya, fashion kaum laki-laki di kalangan mahasiswa UNPAM juga tidak kalah menariknya dengan perempuan. Mahasiswa semester lima di jurusan Sastra Indonesia Agus Ahmad Salim Zajar bercerita, dia lebih mengutamakan bergonta-ganti pakaian atasan dibanding dengan bahawan seperti jeans, chino dan lainnya “Saya sih lebih suka memperbanyak baju dan kemeja daripada jeans karena kalau celana menurut saya jarang diperhatikan orang, selanjutnya mendominasi sepatu yang sekiranya cocok aja.” Mahasiswa yang sering disapa “Mas kece” ini pernah menjadi penjual baju yang berpusat pada salah satu toko ternama yaitu Ramayana dengan cara menawar-nawarkannya kepada teman satu rumah kosnya dengan memanfaatkan penampilannya yang menarik dan pengetahuannya tentang berpenampilan.
            Tidak hanya pakaian, tetapi assesoris seperti tas dan sepatu disesuaikan untuk mahasiswa yang menggunakan jilbab ataupun yang tidak. Pada penghujung 2013 ini yang sedang menjadi trend fashion mahasiswa kampus swasta ternama di Tangerang Selatan ini adalah tas berwarna coklat yang berpasangan dengan flat shoes berwarna coklat yang disesuaikan dengan warna yang mirip dengan tasnya. Pendapat ini diperkuat oleh Chacha, salah satu mahasiswi jurusan Manajemen “Agaknya sudah menjadi gaya terbaru sekali dan terkesan gaul jika menggunakan flat shoes warna coklat dan tas warna coklat juga untuk mahasiswa perempuan di sini,” ujarnya.
Bahkan di online shop yang biasanya ada pada grup Blackberry Messanger (BBM) sudah banyak penjual yang menawarkan berbagai jenis tas yang berpasangan dengan flat shoesnya bahkan ditambah dengan dompet cantik yang dalam satu paket itu seragam warnanya. “Sekarang sih lagi modelnya dalam satu paket gitu isinya tas, flat shoes, dompet dan wadah make up yang semuanya dalam satu paket itu satu warna. Yang aku jual sih ada lima varian warna yaitu coklat, hitam, merah, kuning dan biru,” ujar Ila Jahrotunnisa mahasiswa STIKes WDH UNPAM dan pemilik “Ila Shop” di BBM.
            Tidak menutup kemungkinan dengan berkembangnya teknologi memudahkan kaum muda berbelanja. Seperti halnya online shop, pembeli hanya melihat-lihat gambar-gambar barang yang dijual yang selalu diperbarui oleh admin online shop itu kemudian denga mudah langsung memesannya hanya dengan mengirimkan permintaan melalui chating Blackberry Messanger. Hebatnya, reseller dari online shop kebanyakan dari kalangan mahasiswa, mereka memanfaatkan gadgetnya untuk menghasilkan uang. Tidak hanya memuaskan hasilnya tetapi harga yang ditawarkan reseller sesuai kantong mahasiswa dan terkesan mewah jika mahasiswa membeli pakaian di online shop.
            Tidak hanya perempuan, laki-laki banyak yang menjadi reseller pakaian-pakaian khusus laki-laki juga bahkan sepatu dan jam tangan pun banyak yang dijual. Kegiatan seperti ini banyak mendatangkan untung baik pada penjual maupun resellernya, karena reseller juga mengambil untung dari harga yang diberikan oleh penjual, beruntung lagi jika pembelinya membeli cukup banyak barang. Berkisar antara lima ribu rupiah hingga lima belas ribu rupiah yang didapatkan oleh reseller dalam setiap satu buah baju.

Minggu, 30 Juni 2013

CERPEN



BULETIN CINTA
Oleh: Ayu Safitria
K

ali ini Senja tak ingin mengirimkan pesan singkat melalui telepon genggamnya terlebih dahulu kepada Fajar, tidak seperti biasanya. Wajahnya muram seakan-akan menggambarkan ingin melakukan sesuatu tetapi tidak bisa. Pagi ini matahari bersinar lembut. Tadi malam hujan yang mendadak membuat orang-orang kaget namun berlega hati. Kemarau tiba-tiba terputus sejenak seperti hati Senja yang semenjak membaca pesan singkat itu menjadi gelisah.
            Sebelum peristiwa itu terjadi, hari-harinya tidak seperti ini. Walaupun setiap harinya air mata Senja selalu tertetes, setidaknya banyak hal yang dibuat Fajar membuat bibir kecilnya terseret manis. Walaupun mereka selalu berada di kelas yang sama tetapi kedekatannya dimulai sejak mereka di semester tiga. Kedekatan itu pun tidak sesingkat yang dibayangkan, Fajar sakit dan dirawat berbulan-bulan tanpa ada teman satu kelasnya yang tahu hal itu. Seketika Fajar kembali masuk kuliah layaknya mahasiswa baru. Penampilannya berbeda sekali, dulu rambutnya masih panjang, kuku ibu jari tangan kirinya yang panjang sekitar 25cm sudah ia potong.
            Senja tertegun memandangnya, hasrat untuk menjadi kekasihnya tumbuh setiap waktu. Ia mulai berani mengirimkan BBM  kepada Fajar tanpa menyebutkan siapa dia. Suatu ketika dosen mereka memberikan tugas berupa tugas pembuatan buletin kelas dengan berkelompok. Tak ragu, Senja langsung mencantumkan nama Fajar ke dalam daftar nama anggota kelompoknya. Fajar tidak menolak, karena ketika itu dirinya belum mendapatkan kelompok. Memang, para anggota kelompok yang lain bilang kalau Fajar bisa bertanggung jawab atas tugasnya.
            Sebagai anggota kelompok yang baik, Fajar datang ke tempat Senja dan kawan yang lain berkumpul untuk berdiskusi secara formal.
     “Maaf sebelumnya, gue belum begitu kenal sama semua mahasiswa kelas ini”
     “Yaudah lu kenalan dulu aja” Fajar tertegun sambil mengarahkan kedua matanya ke arah Senja “Klo sama lu, gue udah kenal kok”
            Mereka mulai berdiskusi dengan anggota kelompok yang lain. Keesokan harinya mulai terlihat bahwa tugas itu membuat mereka semakin berdekatan. Tugas itu pun menjadi alasan Fajar sesekali mengunjungi kost milik Senja, begitu sebaliknya. Mereka menjadi sering bertemu dan sering melakukan banyak perbincangan setiap harinya.
            Perasaan itu mulai tak tertahan oleh Senja, awalnya ia bertahan menahan perasaan terpendamnya kepada Fajar tapi justru keadaan mereka saat itu mendukung perasaan Senja semakin menjadi.
            Suatu ketika, Fajar, Senja, Mia dan Nisa berkumpul di kost milik Fajar, Senja melihat-lihat seisi ruangan, mengarahkan pandangannya ke dinding yang begitu banyak kertas-kertas yang menempel di setiap sudutnya tidak sengaja Senja melihat secarik foto perempuan tertempel rapi di salah satu bagian dinding yang beralaskan sterofoam.
     “Siapa dia?” sambil menunjuk foto itu.
     “Oh, itu mantan gue. Udah lama juga putus, dia udah nikah” jawabnya tegas.
     “Kayaknya berkesan banget sampe masih ditempel sampai sekarang..” Senja menyindir kesal.
            Mia dan Nisa yang juga bagian dari kelompok mereka juga ikut bertanya dan memancing Fajar untuk bercerita perempuan di foto itu di tengah-tengah diskusi mereka tentang buletin yang sedang mereka buat. Senja yang sedang asik dengan laptopnya diam menyimak seakan tidak mau tahu. Kesal ketika itu, hal tadi siang masih difikirkannya hingga larut malam.
            Suatu ketika, air mata Senja tertetes sedih. Tidak ada yang tahu tentang perasaannya, dirinya semakin ingin memiliki Fajar tanpa terkecuali. Dian mulai memberanikan diri mengeretik pesan singkat kepada Fajar bertuliskan “gue itu suka sama lo, tolong ngerti yaa..” Dengan rasa malu dia kirimkan pesan itu. Senja menunggu telepon genggamnya berbunyi nada pesan. Tidak berdering. Hal itu tak sesekali ia alami. Senja terbiasa dengan beribu-ribu pesan yang ia kirim kepada Fajar namun tidak pernah dibalas.
            Balasan pesan yang ditunggunya kali itu tidak membangunkannya dari tidur karna lama menunggu. Saat pagi datang, Senja membacanya dan menangis. Tenyata isi pesannya,
     “Hahahaha, jangan main-main. Semuanya teman kok”
            Jawaban itu membuat hatinya sakit, membuat ia menangis sesekali membuang perasaannya. Cintanya tidak terbalas. Perasaannya tertuju kepada orang yang salah. Pesan itu membuat tiap kali pertemuannya dengan Fajar menjadi canggung. Dan Senja memutuskan untuk membuang perasaannya dengan menggantinya dengan orang lain. Buletin yang mereka buat bersama-sama diserahkannya kepada Fajar untuk meneruskan menyelesaikannya.
            Di tangga pintu belakang kampus, tak kurang dua belas orang berjejel. Semua perempuan. Semua mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Dua diantaranya menghalangi pandangan Fajar. Tangannya meraih jari-jari Senja yang ketika itu dia tidak ada kesempatan untuk menanyakan alasan Senja menjauh darinya. Ketika Senja menoleh, dengan cepat Senja melepaskan genggaman tangan Fajar.
     “Lo kenapa si? Ada yang salah sama gue? Sikap lo gak usah kayak gini!” tegasnya kepada Senja sambil berjalan cepat.
     “Gue gak mau aja punya perasaan lebih sama lo, gue cuma pengen ngejauh aja biar bisa lupa tentang perasaan ini” jawab Senja dengan wajah penuh kecewa.
     “Gak perlu ngejauh!” bentaknya.
            Siaran televisi menjelang malam itu kembali dengan program yang dia gemari. Malam ini, siaran itu menyajikan dua pasang kekasih yang sedang bertengkar, melihat program acara televisi itu Fajar teringat kejadian siang tadi yang membuatnya terheran mengapa ia melarang Senja untuk menjauh. Fajar menyadari bahwa dirinya hanya menganggap Senja seorang teman sekelasnya tetapi malam itu membangunkannya dari mimpi panjang mengingat tiga tahun belakangan itu Fajar tidak mau berpacaran.
            Fajar terbiasa mendapatkan pesan singkat dari Senja yang walaupun sekedar mengingatkannya untuk beribadah dan makan, tetapi hari itu Senja tak juga mengirimkannya kata-kata itu. Fajar mencoba mengirim pesan terlebih dulu kepada Senja.
            Dengan terheran, Senja melihat telepon genggamnya bergetar dan bertuliskan SATU PESAN BARU DARI FAJAR. “Kemana aja? Kok gak ada kabarnya?”
            Dengan senangnya saat membaca pesan itu. Berpikir ulang ketika Senja hendak membalasnya dengan kata yang manis. Dia anggap bahwa Fajar tidak pernah mempunyai perasaan yang sama terhadapnya. Pesan yang sudah ia ketik pun dihapusnya kembali.
            Dari kejauhan, Fajar sedang menunggu balasan pesan itu. Dia pun mengetik ulang pesan kepada Senja dengan isi pesannya hanya lambang sedih “L” Senja tertawa kecil saat membacanya.
            Di bawah sinar matahari, ketika waktu perkuliahan tekah selesai. Di sebelah kanan lift naik. Fajar mendekati Senja perlahan. Membisikkannya tentang hal yang mengingatkannya bahwa tugas buletin mereka telah selesai dan harus dicetak. Fajar memintanya menemani saat mencetak buletinnya.
            Entah siapa yang mulai, percakapan mereka menjadi begitu serius. Merasa dirinya tidak pantas menjadi kekasih Fajar, Senja pun mengutarakan kekesalan dan kekecewaannya
     “Yaudahlah lo jadian aja sama cewek lain biar gue benci sama lo, daripada terus-menerus gue harus mengagumi lo dalam diam” ucap Senja sambil menundukkan kepalanya.
     “gak bisa.. aku maunya kamu tetap sama aku”
     “ Tetap jadi Senja yang selalu mengagumiku dengan timbal balik dari aku sendiri!”
            Beberapa puluh menit kemudian, Fajar memberanikan dirinya mengutarakan apa yang selama ini dia rasa. Suatu hal yang mustahil terjadi, menurut Fajar, Sudi adalah perempuan untukterhebat yang mampu mengalahkan egonya demi mempertahankan perasaannya walaupun Fajar sempat tidak ada respon balik terhadapnya. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang bertemu setiap hari di dalam kelas.
            Fajar dan Senja satu pasang kodrat untuk saling mengawali dan mengakhiri harinya dengan baik.  

Jumat, 21 Juni 2013

W.S. RENDRA DAN KARYA-KARYANYA




Tugas Makalah ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Nilai Mata Kuliah
Telaah Puisi 1
Dosen : Ita Rodiah S.S, M. Hum







Disusun Oleh :
Agus Ahmad Salim Zajar
Ayu Safitria
Gatot Sanyoto



FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PAMULANG
2013



Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Tanpa bantuan dari dosen dan teman-teman kami tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala urusan kita, Amin.


                    


Pamulang,  Juni 2013






KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.............................................................................. 1
B.  Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.    Bagaimana struktur, fungsi, pertumbuhan otak ?....................  2
2.    Bagaimana kaitan antara otak dan bahasa ?.............................. 2
3.    Bagaimana perbedaan antara otak manusia dan binatang ?......        2

BAB II    PEMBAHASAN
1.    Struktur, Fungsi, Pertumbuhan Otak........................................ 3
2.    Kaitan Antara Otak dan Bahasa............................................... 4
3.    Perbedaan antara Otak Manusia dan Binatang...................... .. 5

BAB III     PENUTUP
A.    Simpulan..................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 7




Sastra merupakan tulisan atau karangan yang memiliki nilai keindahan atau estetika baik yang ditulis oleh pengarang dalam kurun waktu tertentu maupun pengarang pada zaman sekarang. Selain itu juga sastra dapat dipandang sebagai gejala sosial. Karya sastra merupakan tanggapan penciptanya (pengarang) terhadap dunia (realita sosial) yang dihadapinya.[1]
Pada dasarnya keutuhan pengertian puisi tidak lepas dari ruang lingkup pengertian kesusastraan, yaitu karangan atau tulisan yang indah yang mempunyai makna tertentu yang mempunyai nilai estetis. Puisi merupakan bentuk ekspresi yang dominan dalam sastra. Dominasinya bukan hanya karena bentuk syairnya yang mudah dihafal, tetapi juga karena penuh arti dan sangat digemari oleh mereka yang berpikir dalam. Dikasi dalam puisi selalu berhubungan dengan bunyi. Puisi akan terdengar indah dan bermakna apabila dibacakan dengan penuh penghayatan sesuai dengan musikalitas dan hakikatnya sehingga dapat menyejukan hati, pikiran dan perasaan kita.[2]
Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.[3]
Tahun 1966 (masa peralihan tumpukan kekuasaan dari Soekarno (orde lama) ke Soeharto (orde baru), terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Perpuisian Indonesia pun didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi awal tahun 1966. Salah satu penyair yang aktif menyuarakan puisi protesnya yaitu Rendra, dengan Balada Orang-orang Tercinta. Puisi-puisinya bertemakan sosial dan personal. Dalam puisinya, ia menyuarakan kritiknya tentang kondisi masyarakat Indonesia dan kalangan elite pada masa itu.[4]

1.2.   Rumusan Masalah
Fokus masalah dalam makalah ini, kami memberikan batasan masalah sehingga tidak menyimpang dari apa yang telah menjadi pokok bahasan. Mengacu pada latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah:
1.      Bagaimana biografi W.S. Rendra?
2.      Apa saja karyanya yang mencerminkan zamannya?
3.      Bagaimana W.S. Rendra membawakan puisi-puisinya ?










[1]               Melani Budianta, dkk, Membaca Sastra, (Magelang: Indonesia Tera, 2003), hlm. 15.
[2]               Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi untuk Mahasiswa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 1.
[3]               E. Kosasih, Dasar-dasar Keterampilan Sastra, (Bandung: Yrama Widya, 2012), hlm. 97.
[4]               Hamzah Fansuri, Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), hlm. 112.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Biografi W.S. Rendra
          Rendra atau Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah dan meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah.[1]
            Melalui berbagai puisi, cerpen dan drama untuk kegiatan sekolah pada masa SMP-nya, kemampuan dan bakat sastra Rendra mulai terasah. Puisinya terpublikasi di media massa untuk pertama kalinya melalui majalah Siasat. Sampai dua dekade kemudian secara rutin karya-karyanya menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi dan Siasat Baru. [2]   
Nama Rendra setelah memeluk Islam yaitu Wahyu Sulaiman Rendra, ia memeluk Islam pada 12  Agustus 1970. Seniman ini mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkahwinannya dengan Sitoresmi pada 12 Agustus 1970, dengan disaksikan dua lagi tokoh sastera Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Gelarnya sebagai “Si Burung Merak” bermula ketika Rendra dan sahabatnya dari Australia berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta. Di kandang merak, Rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah dikerubungi merak-merak betina. “Seperti itulah saya,” tutur Rendra spontan. Kala itu Rendra memiliki dua isteri, yaitu Ken Zuraida dan Sitoresmi.


2.2. Puisi Karya W.S. Rendra
Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !
Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi

Balada Orang-Orang Tercinta
Pengarang: WS. Rendra

Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan dengan secuil redup harapan

Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang di ujung terowongan yang terang
Namun cinta tidak membawa kita memahami satu sama lain

Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari kita Untuk berhenti berpura-pura?

Kita meleleh dan tergerus Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa rasanya mengalir bersama kehidupan
Melupakan hal-hal kecil yang dulu termaafkan

Mengapa kita saling menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta.

   Kata orang-orang tercinta bermakna orang-orang tersisih seperti perampok, pembunuh, pelacur, perempuan kesepian, ibu yang rindu anaknya dan lain sebagainya.
   Karya Rendra yang biasa dibacakan ketika ada demonstrasi dan mimbar bebas itu pada 1980 diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan, dalam buku kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi. Isinya menggambarkan situasi politik sejak 1973, tatkala Rendra masih di Yogyakarta, sampai 1978. Bahkan hingga pertengahan 1980-an sajak Rendra masih terasa menggedor-gedor semangat aktivis mahasiswa.
          Tidak hanya puisinya, olah vokal dan ekspresi gerak Rendra juga memberikan pengaruh kuat. Ia sendiri mengaku mengagumi gaya pidato Soekarno yang penuh sihir. Sejumlah penyair pada pertengahan 1980-an masih meniru-niru gerak dan olah vokal penyair kelahiran 7 November 1935 itu. Ciri khas Rendra itu dengan mudah dijumpai dalam acara mimbar bebas mahasiswa pada masa itu.
          Meski puisi Rendra pada masa awal kepenyairan berbeda bentuk dan gaya, Rendra tetap dikenal oleh mahasiswa untuk puisi pamfletnya. Seperti diutarakan A. Teeuw dalam kata pengantar buku Potret Pembangunan, yang menyebut Rendra sebagai pemberontak, seorang yang selalu sibuk melonggarkan kungkungan dan pembatasan. Tak heran jika Rendra sempat mencicipi jeruji tahanan pada masa itu. Maklum, rezim ketika itu memang antikritik.[3]






BAB III
PENUTUP

3.1.   Simpulan
Otak memegang peran yang sangat penting dalam bahasa, karena bahasa yang dikelurkan terjadi karena adanya saringan dari dalam otak dan melalui sistem bunyi yang dipakai oleh suatu masyarakat untuk berinteraksi melalui percakapan yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun. Adanya bahasa membuat kita menjadi makhluk yang bermasyarakat.
3.2.  Saran

Saran kepada mahasiswa agar dapat lebih memahami isi dari makalah ini dan dijadikan informasi atau ilmu tambahan yang bermanfaat. Sedangkan kepada dosen pembimbing agar dapat mengulas kembali materi pada makalah ini, bahwasanya kami sebagai anggota kelompok sangat membutuhkan masukan dan pembelajaran.
Oleh karena itu kami mengharapkan kepada para pembaca atau mahasiswa serta dosen pengampu kritik dan saran yang bersifat konstruktif dalam terselesainya makalah selanjutnya.







DAFTAR PUSTAKA

Budianta, Melani dkk. 2003. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera.
Fansuri, Hamzah. 2007. Jurnal Ilmu Sastra dan Budaya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Kosasih, E. 2012. Dasar-dasar Keterampilan Sastra. Bandung: Yrama Widya.
Waluyo, Herman J. 2002. Apresiasi Puisi untuk Mahasiswa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Internet:

http://id.wikipedia.org/wiki/W._S._Rendra artikel ini diakses pada 16 Juni 2013 pukul 22.14.
http://www.tokohindonesia.com/tokoh/article/282-ensiklopedi/1849-ws-rendra artikel ini diakses pada 16 Juni 2013 pukul 22.20.



[3]               “100 Catatan yang Merekam Perjalanan Sebuah Negeri”, Tempo, No.1925/08, 19 Mei 2008, h. 121. “Potret Pembangkangan Rendra”.